Di sebuah universitas di pinggiran kota, Afsan dikenal sebagai mahasiswa teknik yang kaku. Dunianya adalah angka, logika, dan sirkuit listrik. Baginya, segala sesuatu di dunia ini harus bisa dijelaskan secara matematis. Sebaliknya, Dea adalah mahasiswi sastra yang eksentrik, selalu membawa buku catatan kecil ke mana-mana, dan memandang dunia melalui kacamata metafora dan perasaan.
Mereka dipertemukan dalam proyek kolaborasi lintas jurusan untuk merancang instalasi seni berbasis teknologi di pusat kota.
"Instalasi ini harus efisien secara energi dan memiliki struktur yang kokoh," ujar Afsan saat pertemuan pertama, sambil menunjukkan skema kabel yang rumit.
Dea hanya tersenyum tipis, menunjuk pada skema tersebut. "Itu bagus secara mekanis, Afsan. Tapi di mana 'jiwa'-nya? Orang yang melihat ini harus merasa tersentuh, bukan cuma melihat tumpukan kabel yang rapi."
Afsan mengerutkan dahi. Baginya, "jiwa" adalah kata yang terlalu abstrak dan tidak efisien. Namun, Dea adalah rekan kerjanya, jadi ia harus mengalah.
Perbedaan yang Saling Mengisi
Selama berminggu-minggu, mereka menghabiskan waktu di bengkel seni. Afsan bekerja dengan soldering dan multimeter, sementara Dea sibuk dengan pemilihan warna lampu, pengaturan ritme cahaya, dan pemilihan diksi yang akan ditampilkan pada layar LED.
Afsan sering merasa kesal dengan ketidakpastian Dea. "Kenapa lampunya harus berkedip dengan pola seperti detak jantung? Itu tidak logis!"
"Karena seni bukan soal logika, Afsan. Itu soal resonansi," jawab Dea tenang, sembari menatap ke arah cahaya yang berpendar lembut. "Terkadang, hal yang paling tidak logis justru adalah hal yang paling manusiawi."
Mendengar itu, Afsan terdiam. Ia mulai mengamati cara Dea bekerja—bagaimana gadis itu begitu teliti memilih setiap kata, bagaimana ia sabar menunggu inspirasi datang. Untuk pertama kalinya, si mahasiswa teknik yang kaku mulai mencoba memahami bahwa ada variabel-variabel dalam hidup yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator.
Puncak Proyek
Malam peluncuran tiba. Instalasi mereka, sebuah kubus bercahaya yang merespons gerak manusia dengan gradasi warna dan kutipan-kutipan puisi, berdiri megah di alun-alun.
Saat orang-orang mulai berdatangan dan berinteraksi dengan instalasi tersebut, Afsan melihat sesuatu yang membuatnya tertegun. Seorang anak kecil tertawa melihat pantulan cahayanya, dan seorang pria tua terlihat terisak membaca puisi yang muncul di layar.
Afsan menoleh ke arah Dea yang berdiri di sampingnya. "Ternyata... mereka merasakan sesuatu," bisik Afsan, suaranya pelan.
Dea menatap Afsan, lalu tersenyum hangat. "Karena kamu membangun kerangkanya dengan begitu kokoh, Afsan. Tanpa struktur darimu, 'jiwa' yang kubawa tidak akan punya tempat untuk tinggal."
Afsan menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar kesempurnaan teknis hingga lupa menikmati prosesnya. Dan Dea, dengan dunianya yang penuh warna, telah membantunya melihat bahwa perpaduan antara logika dan perasaan adalah bentuk kejeniusan yang berbeda.
Sebuah Awal yang Baru
Setelah acara selesai, mereka duduk di bangku taman, jauh dari kebisingan orang-orang.
"Kamu tahu, Dea?" Afsan membuka suara, sambil menatap langit malam. "Dulu aku pikir hidup ini seperti rangkaian seri. Kalau satu putus, semuanya mati. Tapi setelah bekerja denganmu, aku baru sadar kalau hidup lebih mirip rangkaian paralel. Ada banyak jalur, banyak warna, dan banyak kemungkinan yang bisa berjalan bersamaan."
Dea tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat indah di telinga Afsan. "Itu metafora yang sangat bagus untuk anak teknik."
Afsan ikut tersenyum. Malam itu, di bawah kerlip lampu kota, dua orang yang berasal dari dua kutub yang berbeda menyadari bahwa perbedaan bukan untuk diselesaikan dengan logika, melainkan untuk dirayakan dengan kebersamaan.
Mungkin, hubungan mereka tidak perlu dihitung dengan rumus mana pun. Cukup dijalani, seperti sebuah cerita yang sedang ditulis—perlahan, indah, dan penuh makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar