Minggu, 28 Juni 2026

YUNI

 

Di pinggir lapangan basket SMA Garuda, Yuni berdiri sambil mendekap papan strategi erat-erat ke dadanya. Matanya yang tajam tidak lepas dari sosok cowok berkaus nomor punggung 7 yang baru saja melemparkan tembakan tiga angka—dan meleset jauh.

"Bagus, Rio! Teruskan saja menembak angin seperti itu, biar sekolah kita kalah di turnamen minggu depan!" teriak Yuni, suaranya melengking memotong derit sepatu di lantai lapangan.

Rio, sang kapten tim basket yang terkenal keras kepala, hanya mendengus. Ia menyeka keringat di dahinya dengan jersei, lalu menatap Yuni dengan pandangan kesal. "Kamu ini cerewet sekali sih, Yun? Ini baru pemanasan!"

"Pemanasan katamu?!" Yuni berjalan cepat menghampiri Rio. Langkah kakinya yang tegas membuat beberapa pemain cadangan langsung pura-pura sibuk melakukan dribble. Yuni mengetukkan jarinya ke papan strategi. "Persentase tembakanmu hari ini turun 15%. Kalau ego-mu itu tetap lebih besar daripada kerja sama tim, lebih baik kamu duduk di bangku cadangan saja!"

"Hei, aku ini kapten di sini!" balas Rio, tidak mau kalah.

"Dan aku manajer tim ini! Tugasku adalah memastikan tim ini menang, bukan menontonmu pamer crossover yang tidak berguna!" Yuni membalikkan badannya dengan cepat, membuat rambut kuncir kudanya mengibas udara, lalu berjalan kembali ke bangku instrukturnya.

Rio hanya bisa menggerutu dalam hati. Yuni memang terkenal sebagai manajer yang galak, disiplin, dan bermulut pedas. Siapa pun yang malas latihan pasti akan habis diceramahi olehnya. Tapi, tidak ada yang berani membantah karena semua analisis taktik yang dibuat Yuni selalu akurat.

Sisi Lain di Balik Layar

Malam harinya, suasana area olahraga sekolah sudah sepi. Lampu lapangan utama sudah dimatikan, menyisakan keremangan.

Rio yang menyadari wadah air minumnya tertinggal, berjalan kembali ke arah lapangan. Namun langkahnya terhenti saat melihat seberkas cahaya lampu senter dari bangku cadangan. Di sana, Yuni masih duduk sendirian.

Gadis yang tadi siang mengomel tanpa henti itu kini tampak begitu tenang. Kedua matanya terpejam, punggungnya tegak, dan napasnya teratur dalam pola yang lambat. Yuni sedang melakukan meditasi—ritual harian yang selalu ia lakukan untuk menenangkan diri dari riuh rendahnya emosi penat sepanjang hari.

Merasakan ada langkah kaki yang mendekat, Yuni membuka matanya perlahan. Ketegangan di wajahnya langsung kembali begitu melihat siapa yang datang.

"Ngapain kamu jam segini masih di sini? Mau pamer latihan malam?" ketus Yuni, langsung memasang mode defensifnya.

Rio tidak membalas dengan omelan. Ia duduk di pembatas lapangan, agak jauh dari Yuni. "Aku cuma mau ambil botol minum yang ketinggalan. Tapi... melihatmu seperti ini, ternyata kamu bisa diam juga ya."

Yuni membuang muka, pipinya sedikit merona samar di kegelapan. "Aku hanya sedang menjernihkan pikiran. Mengurus tim yang isinya orang-orang keras kepala sepertimu itu menguras energi tahu."

"Maaf," kata Rio tiba-tiba.

Yuni menoleh, terkejut mendengarkan kata itu keluar dari mulut sang kapten egois.

"Aku tahu aku terlalu memaksakan diri tadi siang," lanjut Rio sambil menatap lantai lapangan. "Aku cuma... merasa tertekan karena ini tahun terakhir kita. Aku ingin membawa piala itu untuk sekolah."

Ketulusan yang Tersembunyi

Yuni terdiam cukup lama. Sifat aslinya yang sebenarnya sangat peduli perlahan mengikis dinding ketat yang selalu ia pasang. Ia menghela napas panjang, lalu merogoh tasnya dan melemparkan sebuah botol suplemen vitamin dan sebuah catatan kecil ke arah Rio.

"Minum itu. Dan baca catatannya. Aku sudah menuliskan kelemahan defense dari tim lawan yang akan kita hadapi. Aku juga membuatkan penyesuaian posisi untukmu agar kamu tidak perlu memaksakan tembakan dari luar terus-menerus," kata Yuni, nadanya melembut meski tetap terdengar ketus.

Rio membuka catatan itu. Tulisan tangan Yuni sangat rapi, mendetail, bahkan lengkap dengan analisis titik buta lawan. Rio tersenyum kecil. Ia tahu, di balik semua omelan dan sikap judes Yuni, gadis ini adalah orang yang paling bekerja keras dan paling menginginkan tim ini berhasil.

"Terima kasih, Yun. Kamu benar-benar manajer terbaik," ujar Rio tulus.

"Jangan Ge-Er!" potong Yuni cepat, langsung berdiri dan menyandang tasnya dengan salah tingkah. "Aku melakukan ini demi reputasi sekolah, bukan demi kamu! Cepat pulang dan istirahat, kalau besok kamu terlambat latihan lagi, aku akan menyuruhmu lari keliling lapangan dua puluh kali!"

Yuni berjalan mendahului Rio menuju gerbang sekolah dengan langkah terburu-buru, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang terukir di wajahnya. Sementara Rio hanya terkekeh di belakang, tahu betul bahwa esok hari, "singa betina" tim basket mereka akan kembali memimpin mereka menuju kemenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar