Minggu, 28 Juni 2026

Mobil

 

Di sebuah sudut garasi tua yang berdebu, terparkir sebuah sedan tua berwarna merah pudar. Namanya Kiko. Kiko bukan mobil sport berkecepatan tinggi, juga bukan SUV gagah yang bisa mendaki gunung. Ia hanya sebuah mobil keluarga keluaran tahun 2000-an awal yang mesinnya kerap batuk-batuk jika udara pagi terlalu dingin.

Bagi orang lain, Kiko mungkin hanya rongsokan yang menunggu giliran dibawa ke tempat pengepulan besi tua. Namun bagi Pak Rahmat, Kiko adalah saksi bisu separuh perjalanan hidupnya.

Hari-Hari yang Riuh

Kiko masih ingat betul masa-masa kejayaannya. Dulu, bodinya mengilat diselimuti cat merah menyala. Setiap akhir pekan, tugasnya adalah membawa keluarga Pak Rahmat pergi bertamasya.

  • Jok belakang adalah wilayah kekuasaan dua anak Pak Rahmat, tumpukan mainan, dan remahan biskuit.

  • Bagasi belakang selalu penuh dengan tenda, bekal makanan, atau koper-koper besar.

  • Radio tape-nya tak pernah berhenti memutar lagu-lagu pop lawas kesukaan Ibu.

Kiko bahagia. Ia bangga saat melaju membelah jalan tol, atau ketika dengan tangguh menanjak di jalur pegunungan yang berliku. Ia merasa memiliki tujuan hidup yang jelas: menjaga keselamatan keluarga di dalamnya.

Waktu yang Perlahan Berubah

Tahun berganti, anak-anak Pak Rahmat tumbuh dewasa dan satu per satu pindah ke luar kota. Garasi yang dulu ramai, kini menjadi sepi. Pak Rahmat pun sudah terlalu tua untuk berkendara jauh. Kiko lebih sering menghabiskan waktu termangu di dalam garasi, ditemani debu dan jaring laba-laba.

"Apakah aku sudah tidak berguna lagi?" bisik Kiko dalam hati setiap kali melihat mesinnya mulai berkarat.

Hingga pada suatu sore, pintu garasi terbuka. Pak Rahmat masuk membawa ember berisi air sabun dan kain lap. Wajah orang tua itu tampak lelah, namun matanya berbinar penuh kerinduan. Dengan lembut, ia mulai membasuh debu yang menempel di tubuh Kiko.

"Kiko," bisik Pak Rahmat sambil mengusap kemudi yang sudah mengelupas fungsinya. "Anak perempuanku besok mau menikah. Dan dia minta, kamu yang mengantarkannya ke gedung pernikahan. Dia tidak mau mobil sewaan yang mewah. Dia maunya kamu."

Mendengar itu, jika saja Kiko punya jantung, pastilah jantungnya berdegup kencang. Ada aliran semangat baru yang mendadak mengalir dari tangki bahan bakarnya menuju ke seluruh kabel-kabel tuanya.

Perjalanan Terakhir yang Sempurna

Hari yang dinanti tiba. Kiko sudah didandani dengan sangat cantik. Tubuhnya dipoles hingga kembali berkilau, dan kap mesinnya dihiasi rangkaian bunga mawar putih yang indah.

Ketika putri Pak Rahmat yang anggun dengan gaun pengantinnya duduk di jok belakang, Kiko berjanji pada dirinya sendiri: Hari ini, tidak boleh ada mogok. Tidak boleh ada batuk.

Crrrtt... Vroom!

Mesin Kiko menyala dalam sekali starter. Suaranya terdengar begitu bulat dan bertenaga, seolah ia kembali muda belia. Sepanjang perjalanan menuju tempat pernikahan, Kiko melaju dengan sangat mulus. Semua mata di jalanan memandang ke arahnya dengan senyuman—sebuah mobil klasik yang membawa kebahagiaan.

Setelah tugasnya selesai hari itu, Kiko kembali ke garasi tuanya. Ia tahu, masanya mungkin sudah hampir habis, dan tak lama lagi ia akan benar-benar beristirahat. Namun Kiko tidak lagi sedih. Ia tahu, sebuah mobil tidak dinilai dari seberapa cepat ia melaju, melainkan dari seberapa banyak kenangan indah yang berhasil ia hantarkan sampai ke tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar