Rabu, 09 September 2026

ahli dzikir yang ingin berdua dengan allah

 

Malam sudah terlewat separuh ketika seluruh penghuni desa terlelap dalam lelapnya masing-masing. Di dalam sebuah gubuk kecil di ujung lorong setapak, cahaya lampu minyak hanya berpendar redup, menerangi sudut ruangan yang sepi.

Bagi Pak Syukur, jam-jam inilah yang paling ia nanti. Ketika hiruk-pikuk dunia mereda dan perbincangan manusia berhenti, pintu sunyi terbuka lebar.

Ia mengambil air wudu dengan perlahan, membiarkan dinginnya air malam menyapu wajah dan kedua tangannya. Di atas kain sajadah yang sudah memudar warnanya, ia berdiri tegak. Tak ada lagi urusan dunia yang ia bawa, tak ada lagi keinginan untuk dilihat atau didengar oleh siapa pun. Malam ini, hatinya hanya tertuju pada satu hal: ingin berdua dengan Allah.

Saat jemarinya mulai menggulirkan biji-biji tasbih kayu, lisan Pak Syukur berbisik lembut. Setiap kalimat dzikir yang terucap bukan sekadar gerakan bibir, melainkan helaan napas yang membawa jiwanya makin dekat pada ketenangan yang hakiki. Di ruangan yang sempit itu, rasa sepi tak lagi terasa menakutkan, melainkan berubah menjadi kehangatan yang luar biasa.

Ia tidak meminta harta, tidak pula meminta nama yang diagungkan orang banyak. Dalam sujudnya yang panjang, Pak Syukur hanya menikmati perjumpaan sunyi itu—sebuah ruang di mana ia bisa mencurahkan segala rasa, mengadukan kelemahannya, dan merasakan betapa dekatnya Sang Maha Pencipta.

Ketika ketukan tasbihnya mencapai titik akhir dan fajar mulai membayang di ufuk timur, Pak Syukur mengusap wajahnya pelan. Wajahnya tampak teduh dan matanya berbinar lembut. Meski harus kembali menyapa riuk pikuk dunia di siang hari, hatinya telah dipenuhi kedamaian yang tak tergoyahkan, sebab ia tahu ke mana harus kembali saat merindukan kesunyian yang sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar