Selasa, 08 September 2026

Catatan Kecil di Celah Lemari

 

Suara derit pintu kamar yang lama tak dibuka bergema pelan di dalam rumah peninggalan orang tua. Maya berdiri di tengah ruangan yang diselimuti debu tipis, memandangi tumpukan dus dan lemari kayu tua yang harus ia rapikan. Seminggu terakhir terasa begitu berat setelah keputusan sulit untuk mundur dari dunia akademis yang selama ini menghimpitnya. Ada rasa bersalah yang mengendap, seolah-olah ia telah mengecewakan banyak harapan.

Ia mulai menggeser sebuah lemari buku yang berat. Saat lemari itu bergeser beberapa sentimeter, selembar kertas kusam yang terlipat jatuh dari celah belakangnya.

Maya memungut kertas itu. Tulisan tangan yang sangat familiar tertera di sana—tulisan tangan ibunya, tertanggal belasan tahun lalu ketika Maya masih bersiap masuk bangku sekolah dasar.

“Untuk Maya kecil yang sedang belajar berjalan. Hari ini kamu jatuh tiga kali di halaman, tapi kamu selalu tersenyum sebelum mencoba berdiri lagi. Jangan pernah lupa cara tersenyum itu saat kamu dewasa nanti.”

Maya menatap barisan kata itu lama. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, membasahi pinggiran kertas yang menguning. Di tengah rasa cemas akan masa depan dan beban ekspektasi yang terus mengejarnya, ia lupa bahwa melangkah tidak pernah berarti harus selalu berdiri tegak tanpa pernah jatuh.

Ia mengusap pipinya, melipat kembali kertas kecil itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dada Maya terasa lebih ringan. Langkah yang ia pilih mungkin bukan jalan yang diharapkan semua orang, tetapi malam ini ia tahu, ia hanya perlu belajar melangkah lagi dengan caranya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar