Selasa, 08 September 2026

Jejak di Tepi Danau

 

Angin sore berembus dingin di tepi Danau Toba, menerpa wajah Maya yang terduduk kaku di atas bangku kayu tua. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kusam terbuka pada halaman yang penuh dengan coretan garis-garis silang. Itu adalah daftar semua rencana hidupnya dalam lima tahun terakhir—rencana yang kini tak satu pun menjadi kenyataan.

Kecewa dan merasa tertinggal dari teman-temannya yang sudah melangkah jauh, Maya menutup buku itu dengan kasar. Ia melemparkan pandangannya ke riak air danau yang memantulkan warna jingga mentari terbenam.

"Airnya terlihat sangat tenang, ya?"

Sebuah suara menyapa. Seorang pria paruh baya yang membawa alat pancing duduk di bangku sebelah. Pria itu melempar kailnya ke dalam air, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.

"Tapi di bawah sana, arusnya sebenarnya terus bergerak," lanjut pria itu tanpa menoleh. "Sama seperti kita. Kadang kita merasa diam dan tak menghasilkan apa-apa, padahal di dalam diri, kita sedang memproses banyak hal."

Maya menatap pria tua itu, lalu menunduk melihat bukunya lagi. "Tapi saya merasa sudah membuang banyak waktu, Pak. Semua yang saya rencanakan gagal."

Pria itu terkekeh pelan. "Kamu tahu bedanya orang yang sedang berjalan di jalur yang benar dengan orang yang tersesat? Orang yang tersesat sebenarnya cuma belum sampai ke tempat yang baru. Jalan berputar itu bukan berarti kamu mundur, Maya. Itu cuma cara alam memberi waktu supaya kamu siap waktu sampai di tujuan."

Maya tertegun. Pria itu bahkan tidak mengenalnya, namun kalimatnya memukul telak rasa cemas yang selama ini menghantuinya.

Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, menyisakan warna keunguan di langit malam. Maya memeluk buku catatannya erat-erat, bukan lagi dengan rasa benci, melainkan dengan penerimaan. Di tepi danau yang hening itu, ia akhirnya paham bahwa jalurnya tidak harus sama dengan orang lain untuk tetap sampai ke tempat yang indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar