Lampu gantung di tengah ruang rapat lantai atas itu memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Di balik meja kayu panjang yang mengilap, dua orang duduk berhadapan. Tidak ada suara denting cangkir atau lembaran kertas yang diacak. Hanya ada keheningan yang tajam, tipis, dan penuh desakan.
Rian meletakkan dokumen tipis di tengah meja, membiarkannya berada tepat di garis batas antara dirinya dan Seno.
"Kau tahu apa isi map ini, Seno," ujar Rian pelan. Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk memotong kesunyian malam yang mulai merambat di luar jendela kaca kantor. "Bila ini ditandatangani, seluruh rencana awal yang kita susun selama lima tahun akan berubah arah. Banyak hal yang harus dikorbankan."
Seno menatap map itu tanpa menyentuhnya. Jemarinya saling bertaut di atas meja. "Kolektivitas, Rian? Atau kompromi? Jangan berpura-pura ini demi kebaikan bersama jika ujung-ujungnya hanya untuk mengamankan posisimu."
Rian tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan. "Dalam dunia yang kita jalani, tidak ada pilihan yang murni bersih. Setiap orang membawa kepentingannya sendiri. Bedanya, kepentingan yang kubawa malam ini menjaga agar kapal ini tidak karam, sementara kepentinganmu hanya ingin memastikan namamu tetap bersih di atas kertas."
Seno membisu. Setiap kata yang diucapkan Rian menohok tepat di tempat yang paling ia hindari. Ia tahu Rian benar. Di balik segala alasan moral dan idealisme yang selama ini ia gaungkan, ada rasa takut kehilangan pengaruh yang terselip rapi.
Malam makin larut. Di atas meja itu, sebuah map sederhana mendadak terasa begitu berat. Benda itu bukan lagi sekadar tumpukan kertas, melainkan cermin yang memaksa mereka berdua melihat dengan jelas garis batas antara loyalitas, ambisi, dan kepentingan yang akhirnya harus mereka pilih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar