Senja baru saja runtuh di ambang jendela, menyisakan gurat jingga yang perlahan memudar menjadi keperakan malam. Di dalam ruangan ringkas yang tenang, Nisa duduk bersila di atas sejadah yang membentang rapi. Suara gemericik air wudu di luar rumah baru saja usai, menyisakan kesegaran yang meresap hingga ke dalam dadanya.
Ia menarik napas panjang, menikmati aroma dingin udara malam yang mengalir lembut. Tidak ada kehebohan, tidak ada tumpukan beban yang biasanya menggelayut di kepalanya. Di tempat ini, di atas kain sederhana ini, seluruh hiruk-pikuk dunia seolah kehilangan dayanya untuk mengusik.
Nisa mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya pelan seusai menuntaskan doa.
Ia memandangi jemarinya yang saling bertaut. Dulu, ia selalu berpikir bahwa kebahagiaan adalah ketika seluruh rencana berjalan sempurna tanpa cela, atau ketika semua tempat di dunia memberi ruang yang riuh untuk keberadaannya. Namun malam ini, di tengah hening yang menentramkan, ia mengerti sesuatu yang jauh lebih dalam.
Kebahagiaan sejatinya tidak pernah bersumber dari seberapa riuh dunia menyambutnya, melainkan seberapa lapang hatinya saat berserah.
Ketika ia menyandarkan seluruh harap, rasa lelah, dan ketakutannya hanya kepada Sang Pemilik Jiwa, segalanya mendadak terasa cukup. Tak ada lagi rasa cemas akan hari esok, tak ada lagi beban yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Ada rasa aman yang tak tergoyahkan—sebuah kepastian bahwa dalam setiap helaan napasnya, ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Nisa tersenyum tipis, melipat sejadahnya dengan perlahan. Di dalam dadanya, sebuah rasa hangat mengalir tenang dan mengakar kuat. Sebuah kesadaran yang menyejukkan jiwa: hidupnya sudah sepenuhnya bahagia, karena ia melangkah bersama Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar