Selasa, 08 September 2026

Aroma Kayu Manis di Sudut Dapur

 

Suara dering jam weker di atas meja samping tempat tidur membangunkan Sita tepat pukul lima pagi. Udara subuh masih sangat dingin, menyusup lewat celah jendela kayu kamarnya. Selama tiga bulan terakhir, pagi Sita selalu diawali dengan perasaan sesak yang sama—bayang-bayang kegagalan usaha toko rotinya yang gulung tikar masih membuntutinya seperti bayangan yang tak mau hilang.

Dengan langkah pelan, ia berjalan ke dapur kecilnya. Di sana, Ayah sudah berdiri membelakanginya, sibuk menakar tepung dan menyalakan oven tua yang bunyinya selalu menderu kasar.

"Pagi, Sita," puji Ayah tanpa menoleh, seolah tahu langkah kaki putrinya. "Bisa tolong Ayah ambilkan kayu manis bubuk di rak atas?"

Sita mengambil wadah kaca berisi kayu manis bubuk itu dan menyerahkannya. "Ayah masih mau bikin roti setiap pagi? Padahal toko kita sudah tutup, Yah."

Ayah tersenyum tipis, lalu menaburkan bubuk harum itu ke atas adonan yang sedang diulinya. "Toko boleh tutup, Sita. Tapi jemari Ayah dan kamu belum patah. Keahlian kita tidak ikut kebangkrutan itu."

Sita menunduk, menatap adonan roti di meja kayu yang terpapar cahaya lampu kuning Dapur. "Tapi Sita malu, Yah. Semua tabungan Sita habis. Rasanya sia-sia semua kerja keras bertahun-tahun kemarin."

Ayah menghentikan gerakannya, lalu mengusap tangannya yang berbalut tepung pada celemek. Beliau menepuk bahu Sita lembut.

"Kamu tahu kenapa roti butuh waktu untuk mengembang?" tanya Ayah pelan. "Adonan ini harus didiamkan di tempat gelap, ditutup kain basah, dan dibiarkan beristirahat. Kalau kita buru-buru memanggangnya sebelum waktunya, rotinya bakal bantat dan keras."

Ayah menunjuk dadanya sendiri, lalu menunjuk Sita.

"Kondisi kita sekarang cuma lagi di bawah kain basah itu, Nak. Kita cuma lagi dikasih waktu buat 'mengembang' lagi dalam diam. Ini bukan akhir, ini cuma proses pematangan."

Aroma khas kayu manis dan adonan hangat perlahan memenuhi ruangan dapur yang sempit itu. Sita menghirup udara pagi itu dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam sembilan puluh hari terakhir, dada Sita terasa sedikit lebih lapang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar