Di sebuah desa kecil di pinggir hutan, hidup seorang lelaki tua bernama Pak Kadir. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang tak pernah berhenti menggerakkan bibirnya. Entah sedang berjalan menuju sungai, menyapu dedaunan kering di pelataran rumahnya, atau sekadar duduk di bawah pohon rindang, lisan Pak Kadir selalu basah oleh kalimat-kalimat dzikir.
Bagi warga sekitar, Pak Kadir adalah penyejuk. Setiap kali ada warga yang sedang dilanda kecemasan atau kesedihan, duduk sebentar di dekat Pak Kadir saja sudah cukup untuk membuat hati terasa teduh. Tidak ada nasihat panjang lebar yang keluar dari mulutnya, hanya ketenangan luar biasa yang seolah memancar dari sosok sang ahli dzikir.
Suatu malam, badai angin yang sangat dahsyat menerjang desa tersebut. Petir menyambar bertubi-tubi, dan angin kencang merobohkan beberapa pohon besar hingga merusak pemukiman. Warga desa yang panik berhamburan keluar dari rumah, mencari perlindungan ke surau tua—satu-satunya bangunan yang tampak berdiri kokoh.
Di dalam surau, ketakutan membuncah. Orang-orang menangis dan saling berpelukan saat gemuruh badai semakin menjadi-jadi. Namun, di sudut ruangan yang remang, Pak Kadir duduk bersila dengan tenang. Matanya terpejam, dan tasbih kayu di tangannya bergulir perlahan. Setiap usapan biji tasbih diiringi ketetapan hati yang bulat, menyerahkan seluruh keselamatan diri dan desanya kepada Sang Maha Pencipta.
Ajaibnya, di tengah kepanikan itu, langkah dzikir Pak Kadir yang perlahan mulai memunculkan suasana hangat di dalam surau. Satu per satu warga mulai meniru lisannya, mengikutinya mengingat Tuhan. Ketakutan yang semula menguasai ruangan perlahan memudar, berganti dengan rasa pasrah yang menentramkan.
Hingga akhirnya, menjelang fajar, badai runtuh dan angin kembali tenang. Saat pintu surau dibuka, warga menyaksikan pemandangan yang mengharukan: meski banyak cabang pohon bertumpukan di sekitar surau, tak satu pun yang menimpa atapnya. Desa mereka selamat dari kerusakan parah.
Pak Kadir menyunggingkan senyum tipis, menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu melanjutkan ketukan tasbihnya. Ia tahu, ketenangan bukan hadir karena dunia berhenti bergejolak, melainkan karena hati yang tak pernah berhenti mengingat Sang Pemilik Jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar