Gema suara di dalam aula istana batu itu perlahan menyusut, meninggalkan kesunyian yang mencekam.
Di atas takhta kayu jati berukir, Sang Raja duduk dalam diam. Jubah beratnya menjuntai hingga ke anak tangga pertama. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah sosok yang berlutut di tengah ruangan—seseorang yang menundukkan kepala begitu dalam, hingga jemarinya gemetar menyentuh lantai marmer yang dingin.
"Ampuni aku wahai rajaku..." bisik sosok itu sekali lagi, suaranya parau dan sarat dengan penyesalan.
Sang Raja tidak langsung menjawab. Ia menghembuskan napas panjang, sebuah usikan napas yang membawa bobot tanggung jawab seluruh kerajaan. Di luar istana, angin malam berembus kencang, menggoyangkan api pada obor-obor dinding hingga bayangan di dalam ruangan menari-nari gelisah.
Raja perlahan bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang mantap terdengar berdentang pelan saat ia menuruni anak tangga satu per satu. Setiap langkahnya membuat jantung sosok yang berlutut itu berdegup kian kencang.
Hingga akhirnya, sepasang sepatu boot kulit Sang Raja berhenti tepat di depan sosok tersebut.
"Banggamu telah runtuh, dan ketakutanmu telah memenuhi ruangan ini," ujar Sang Raja dengan suara berat, namun tanpa nada kebencian.
Ia mengulurkan tangannya, memegang pundak sosok itu dan memintanya berdiri. Saat pandangan mereka saling bertemu, tak ada kilatan amarah di mata Sang Raja—hanya kedalaman rasa duka dan kebesaran jiwa.
"Pengampunan bukanlah sesuatu yang membebaskanmu dari kesalahan," lanjut Sang Raja pelan. "Namun malam ini, aku memberikannya padamu. Berdirilah, bukan sebagai seorang pesakitan, tapi sebagai seseorang yang diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki apa yang telah rusak."
Mata sosok itu berkaca-kaca. Beban berat yang selama ini mencengkeram dadanya perlahan terangkat, berganti dengan rasa lega yang tak terhingga saat Sang Raja mengangguk pelan, menandakan bahwa penyesalannya telah diterima sepenuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar