Di sebuah kota kecil yang selalu sibuk, Rangga menemukan sebuah mobil tua berdebu di dalam garasi peninggalan kakeknya. Mobil sedan berwujud klasik itu sepintas tampak seperti besi tua biasa. Namun, saat Rangga masuk ke dalam kabin dan menggenggam kemudinya, dashbord mobil itu memancarkan cahaya biru lembut. Di layar navigasinya yang ajaib, tidak ada peta jalan raya, melainkan pilihan tujuan yang tidak masuk akal: Masa Lalu, Masa Depan, atau Tempat Paling Tenang di Bumi.
Penasaran sekaligus ragu, Rangga menekan tombol Tempat Paling Tenang di Bumi.
Dalam sekejap, suara mesin tua itu berubah menjadi gemuruh halus yang menentramkan. Tanpa perlu menekan pedal gas, mobil ajaib itu meluncur menembus dinding garasi—yang mendadak seperti lapisan air transparan—lalu melayang membelah awan malam. Bangunan-bangunan tinggi dan riuk pikuk perkotaan perlahan memudar di bawah sana, berganti dengan hamparan bintang yang membendung langit malam.
Beberapa menit kemudian, roda mobil mendarat begitu halus di atas permukaan rumput basah. Saat Rangga membuka pintu mobil, aroma pinus dan udara dingin langsung menyapa. Ia berada di puncak bukit hijau yang menghadap ke danau kaca yang jernih, di bawah naungan cahaya rembulan yang sempurna. Semua penat, hiruk-pikuk kota, dan beban di kepalanya menguap seketika.
Mobil itu tidak hanya membawanya berpindah tempat, tetapi juga memberi ruang bagi jiwanya untuk beristirahat.
Rangga duduk di atas kap mobil, menikmati ketenangan malam yang memeluknya erat. Ia sadar, perjalanan ajaib ini baru saja dimulai, dan mobil kakeknya akan selalu siap membawanya pergi kapan saja ia butuh melarikan diri dari bisingnya dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar