Rabu, 09 September 2026

Pijak Pertama di Tanah Lapang

 

Pijak Pertama di Tanah Lapang

Kaki telanjang Arini menyentuh rumput basah yang dingin, mengirimkan sensasi segar yang merambat cepat ke seluruh tubuhnya. Di depannya, hamparan tanah lapang membentang luas tanpa batas, dibingkai oleh garis pegunungan yang biru samar di kejauhan. Udara pagi masih terasa murni, belum tersentuh riuh dan debu jalanan.

Ia melangkah perlahan, membiarkan setiap tetes embun pagi membasahi jemari kakinya. Tidak ada jam tangan yang mengikat pergelangan tangannya, tidak ada denting peringatan yang memaksa matanya untuk terus tertuju pada layar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, waktu seolah berhenti berputar hanya untuk memberinya ruang.

Arini merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menengadahkan wajah ke arah langit cerah yang pelan-pelan diwarnai pendar sinar matahari hangat.

Ia menarik napas paling dalam yang bisa dijangkau oleh paru-parunya, membiarkan kesegaran pagi mengisi setiap sudut dadanya yang dulu sering terasa sempit. Saat napas itu dihembuskan perlahan, tumpukan beban dan rasa takut yang selama ini mengendap menguap begitu saja bersama embun yang perlahan menghilang.

Arini tersenyum, lalu menatap lurus ke depan dengan mata yang berbinar jernih. Di atas tanah lapang yang tenang ini, ia tahu bahwa langkahnya kini sudah sepenuhnya ringan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar