Di sebuah sudut desa kecil di lereng bukit, sebuah rumah kayu berdiri bersahaja. Di terasnya, Maya duduk menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam di balik garis cakrawala. Langit melukiskan gradasi jingga dan keunguan yang begitu tenang, dipadu dengan gembur aroma tanah basah seusai rintik hujan.
Hari itu, Maya membuat sebuah keputusan besar. Ia memilih melangkah mundur dari segala hiruk-pikuk kota yang selama ini memenuhi kepalanya dengan riuh ketakutan dan tuntutan tak bertepi. Di tempat ini, tak ada lagi suara kendaraan yang bersahut-sahutan atau lalu lalang manusia yang terburu-buru. Yang ada hanyalah desir angin yang menyapu dedaunan pinus dan bisikan lembut alam yang menentramkan.
Ia menyeruput cangkir teh hangat di tangannya, membiarkan rasa hangatnya menjalar hingga ke dalam dada. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Maya menarik napas sangat dalam tanpa merasa sesak. Tidak ada rasa cemas tentang hari esok, dan tak ada lagi penyesalan tentang keputusan yang telah berlalu.
Di dalam kesendirian yang lapang itu, ia menyadari satu hal: kedamaian sejati tidak pernah berada di tempat yang riuh, melainkan hadir saat jiwa berhenti mengejar dan bersedia memeluk kesunyian dengan penuh rasa syukur.
Maya tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, dan membiarkan malam menyelimutinya dalam ketenangan yang utuh dan sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar