Langkah Ringan di Telaga Sunyi
Air telaga sore itu begitu tenang, menyerupai cermin raksasa yang memantulkan bayangan langit keemasan tanpa celah. Tak ada riak, tak ada gelombang—hanya permukaan yang jernih dan membisu di tengah kepungan bukit-bukit hijau.
Sifa berjalan pelan di sepanjang jalan setapak kecil tepi telaga. Setiap pijakan kakinya di atas tanah yang empuk terasa mantap, tanpa ada rasa terburu-buru. Udara dingin pegunungan merayap masuk ke dalam paru-parunya, membawa aroma segar dedaunan basah dan keheningan yang menyembuhkan.
Ia berhenti tepat di sebuah dermaga kayu tua yang menjorok ke tengah air. Sifa melangkah ke ujungnya, lalu duduk membiarkan kakinya menggantung bebas di atas permukaan air yang tenang.
Selama bertahun-tahun, kepalanya selalu penuh oleh hiruk-pikuk yang tak pernah usai. Namun sore ini, di hadapan pemandangan yang begitu lapang, seluruh riuh itu lenyap seperti embun tersapu angin. Tak ada lagi tumpukan tanya, tak ada lagi beban yang perlu dibuktikan kepada siapa pun.
Ia menengadahkan wajahnya sedikit, membiarkan kehangatan sisa sinar matahari senja menyapa kulitnya. Sebuah hembusan napas lega mengalir dari dadanya. Di sini, di ujung dermaga yang sepi ini, Sifa tahu ia telah menemukan apa yang selama ini ia cari: rasa cukup dan kedamaian yang sepenuhnya utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar