Malam itu, di dalam kamar yang temaram, Hani sengaja tidak menyalakan lampu utama. Hanya lilin kecil di sudut meja yang menerangi sebuah buku bersampul kulit kusam tanpa judul. Buku itu baru saja ia temukan di ceruk meja rias mendiang ibunya—sebuah benda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Hani menelan ludah, lalu perlahan membuka halaman pertama. Halamannya kosong, tetapi tekstur kertasnya terasa hangat di jemari. Tanpa memikirkan apa pun, Hani mengambil pena di dekatnya dan menuliskan satu kalimat pendek:
“Aku rindu tempat yang tenang.”
Begitu titik terakhir digoreskan, tinta hitam itu tiba-tiba menyerap masuk ke dalam serat kertas, seolah dihisap oleh lembaran itu sendiri. Detik berikutnya, permukaan halaman itu bergetar halus. Dari tengah kertas, muncul sebintik cahaya emas yang merambat cepat, memanjat ke tepi meja, lalu meluap dan memenuhi seluruh sudut kamar.
Hani memejamkan mata karena silau. Saat aroma debu kamar berganti dengan wangi udara dingin dan daun basah, ia memberanikan diri membuka mata.
Kamar ringkasnya telah lenyap. Hani kini berdiri di atas padang rumput hijau yang luas di bawah langit senja berwarna jingga keemasan. Angin berembus lembut, membawa ketenangan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di depannya, buku ajaib itu melayang pelan, halamannya terbuka lebar menunggu tulisan berikutnya.
Teringat akan ibunya dan segala hiruk-pikuk kehidupan yang sering membuat napasnya sesak, Hani mengambil pena dari saku celananya. Ia sadar, buku ini bukan sekadar kumpulan kertas, melainkan ruang bernapas yang sengaja ditinggalkan untuknya.
Ia tersenyum tipis, merapatkan jemarinya pada pena, lalu mulai menuliskan harapan berikutnya di atas halaman yang bersinar itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar