Selasa, 08 September 2026

Langkah Pertama di Dermaga Tua

 

Suara derit papan kayu beradu dengan deburan ombak kecil di bawah dermaga tua itu. Rian duduk di ujung papan yang rapuh, membiarkan kedua kakinya menggantung bebas di atas permukaan air laut yang gelap. Di sampingnya, sebuah koper hitam besar tergeletak bisu. Ia baru saja memutuskan untuk pergi dari kota kelahirannya—membawa kekecewaan besar setelah ditinggalkan mitra bisnisnya dan kehilangan seluruh aset yang ia kumpulkan selama lima tahun.

Dunia di matanya saat ini terasa seperti lautan di hadapannya: luas, gelap, dan tak tentu arah.

"Malam begini angin laut tidak bagus untuk paru-paru, Anak Muda."

Seorang nelayan tua dengan pakaian lusuh dan penerang serabut kelapa di tangannya berjalan mendekat. Pria itu meletakkan tempat ikan yang masih kosong di samping koper Rian, lalu duduk santai tanpa beban.

"Sedang menunggu kapal?" tanya nelayan itu.

"Saya tidak tahu sedang menunggu apa, Pak," jawab Rian jujur, suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak. "Saya cuma merasa tidak punya tempat untuk kembali, dan tidak tahu harus melangkah ke mana lagi. Semuanya habis."

Nelayan tua itu terkekeh pelan, mengambil sebatang rokok kretek dari saku celananya dan menyalakannya. Cahaya api rokok itu sempat menerangi wajahnya yang penuh garis-garis ketabahan.

"Laut ini," kata nelayan itu sambil menunjuk ke kegelapan di depan mereka, "setiap malam kelihatan seperti tidak ada ujungnya. Seram. Tapi tiap pagi, waktu matahari terbit, kita baru sadar kalau di balik kegelapan itu ada daratan baru yang menunggu."

Pria itu menepuk koper hitam Rian yang tampak berat.

"Kamu merasa habis karena kamu masih melihat apa yang hilang di belakangmu. Coba berdiri, balikkan badanmu, dan lihat ke depan. Kapal tidak dibangun untuk diam di dermaga tua yang mau roboh ini. Dia dibuat untuk menembus ombak, sebagus atau seburuk apa pun cuacanya."

Rian menarik napas panjang, meresapi udara malam yang asin dan tajam. Kata-kata sederhana itu perlahan mengurai simpul sesak di dadanya.

Ketika nelayan tua itu bangkit untuk merapikan jalanya, Rian pun ikut berdiri. Ia memegang gagang kopernya erat-erat—bukan lagi sebagai beban kegagalan, melainkan sebagai bekal untuk memulai perjalanan yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar