Garis Tenang di Atas Kertas
Suara ketukan gerimis kecil di atas atap seng tua menjadi satu-satunya irama yang mengisi ruangan ringkas itu. Di atas meja kayu polos, sebuah buku catatan bergaris terbuka tepat di tengahnya. Sebuah pulpen hitam tergeletak melintang di tepi halaman yang masih bersih.
Nadia duduk menyender di kursi kayu, kedua tangannya memangku cangkir teh hangat yang uapnya masih membubung tipis. Mata cantiknya menatap lekat-lekat pada kertas kosong di depannya. Tidak ada lagi tumpukan draf yang membingungkan, tidak ada lagi coretan rencana yang saling bertabrakan, dan tidak ada lagi kejaran kalimat yang dipaksa lahir demi memuaskan siapa pun.
Ia mengambil pulpen itu, jemarinya memegang batangnya dengan santai. Tanpa perlu berpikir keras, Nadia menggoreskan satu garis lurus di bagian atas halaman—sebuah simbol sederhana bahwa lembaran baru telah dimulai.
Seiring tatanan huruf demi huruf terukir di atas kertas, perasaan lapang yang sangat pekat merayap masuk ke dalam dadanya. Suara bising di kepalanya yang selama ini saling bersahutan perlahan-lahan lenyap, tergantikan oleh fokus yang jernih dan rasa tenang yang penuh.
Ia menutup buku itu dengan satu hembusan napas yang lega. Nadia tahu, ia tidak perlu menuliskan seluruh kisah hidupnya malam ini. Cukup dengan mengetahui bahwa ia memegang kendali atas lembarannya sendiri, hatinya sudah sepenuhnya merasa aman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar