Di sebuah celuk lembah yang terisolasi dari riuk pikuk dunia, berdiri sebuah monumen batu berukir simbol kuno yang dikenal dalam legenda sebagai Prasasti Keinginan. Konon, siapa pun yang mampu mencapai tempat itu dan menyentuh batunya pada malam bulan purnama, seluruh keinginan dalam hatinya akan langsung terkabul tanpa syarat.
Kalea menempuh perjalanan bertahun-tahun menembus hutan lebat dan tebing terjal hanya demi berdiri di depan batu tersebut. Di kepalanya, meluap ribuan tumpukan harapan: ketenangan yang tak terusik, kedamaian abadi, kecukupan yang tak pernah habis, hingga terhapusnya seluruh rasa sakit yang pernah hinggap di jiwanya.
Saat rembulan tepat berada di puncaknya, Kalea melangkah maju. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan batu yang dingin.
“Tabulkan seluruh keinginanku,” bisiknya dalam hati.
Seketika, gelombang hangat mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Cahaya keemasan merekah pelan, merayapi seluruh penjuru lembah sebelum akhirnya meresap ke dalam jiwanya.
Dalam sekejap, segalanya berubah.
Rasa lelah di kaki Kalea lenyap seketika. Beban berat di dadanya menguap tanpa sisa. Keinginan akan tempat yang tenang, kedamaian jiwa, dan kecukupan hidup terwujud dalam satu helaan napas. Tak ada lagi cemas, tak ada lagi ketakutan akan hari esok, dan tak ada lagi penyesalan masa lalu. Segalanya menjadi utuh, sempurna, dan mutlak.
Kalea terduduk di atas rumput basah. Ia memejamkan mata, merasakan kepenuhan yang luar biasa melingkupi dirinya. Dalam hening yang begitu sempurna itu, ia menyadari satu hal: ketika semua keinginan telah terkabul, tidak ada lagi alasan untuk berlari, mencari, atau berharap. Yang tersisa hanyalah rasa syukur yang teramat dalam dan kedamaian yang akhirnya tinggal secara permanen di dalam dadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar