Muara Rasa yang Pulih
Setitik air gerimis menetes dari ujung genting, jatuh tepat di atas permukaan kolam batu kecil di pekarangan rumah. Riaknya melebar pelan, menciptakan pola lingkaran yang sempurna sebelum akhirnya kembali tenang.
Rani memandangi pantulan bayangan dirinya di atas air. Tak ada lagi binar matanya yang lelah seperti beberapa bulan lalu. Wajah yang dulunya sering muram oleh tumpukan kecemasan itu, kini tampak begitu teduh dipeluk hangatnya sinar matahari pagi.
Ia melangkah pelan menyusuri jalan setapak di samping rumah, membiarkan rumput basah menyentuh jemari kakinya. Udara pagi terasa begitu bersih, membawa aroma tanah dan embun yang menyejukkan hingga ke ceruk dada ter dalam. Di tempat yang sepi dari hiruk-pikuk ini, Rani belajar melambatkan langkah, mendengarkan kembali detak jantungnya sendiri yang sempat asing.
Ia menyandarkan tubuh di bawah rindangnya pohon mangga tua, memejamkan mata sambil membiarkan angin membelai rambutnya lembut. Dulu, ia selalu berpikir bahwa luka dan rasa lelah butuh penjelas raksasa untuk sembuh. Namun ternyata, yang ia butuhkan hanyalah keberanian untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi hatinya untuk bernapas.
Rani membuka mata, menatap langit biru yang membentang luas tanpa batas. Sebuah senyuman simpul terukir di bibirnya—sebuah senyuman penuh keikhlasan yang menandakan bahwa jiwanya yang sempat patah kini telah sepenuhnya pulih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar