Langkah Kirana terhenti di depan gerbang tua berukir kayu jati yang mulai lapuk. Sudah sepuluh tahun ia tak menginjakkan kaki di rumah neneknya di pinggir desa ini. Udara sore yang dingin merayap masuk lewat celah jaket tebalnya, membawa aroma tanah basah dan daun pinus yang sangat dihafalnya sejak kecil.
Di teras, seorang perempuan tua dengan rambut putih yang disanggul rapi sedang duduk di kursi goyang. Nenek tidak mengecat rambutnya, tidak juga berusaha menyembunyikan kerutan di pipinya. Saat mata mereka bertemu, sebuah senyum hangat perlahan mengembang di wajah yang mulai dimakan usia itu.
"Kamu pulang, Kirana," bisik Nenek dengan suara parau namun tenang.
Tidak ada pertanyaan kenapa Kirana baru kembali sekarang, atau mengapa ia membawa koper begitu besar di pertengahan minggu kerja. Nenek hanya menggeser cangkir teh melati hangat ke tepi meja, seolah-olah sudah tahu bahwa cucunya sedang melarikan diri dari riuhnya kota dan kegagalan yang baru saja menimpanya.
Malam itu, mereka duduk berdua di ruang tengah yang hanya diterangi lampu gantung kekuningan. Kirana akhirnya tumpah. Ia menceritakan tentang pekerjaannya yang kandas, impian yang berantakan, dan rasa lelah yang membuatnya ingin menyerah pada semuanya. Nenek menyimak tanpa sekali pun memotong, tangannya yang keriput sesekali mengelus jemari Kirana.
"Pohon di halaman belakang itu," kata Nenek pelan sambil menunjuk ke luar jendela, "pernah kehilangan seluruh daunnya waktu musim kemarau panjang tiga tahun lalu. Nenek pikir dia mati."
Kirana menoleh ke arah jendela, menatap bayangan pohon mangga besar yang berdiri kokoh di kegelapan.
"Tapi dia cuma lagi menahan diri," lanjut Nenek. "Dia fokus menguatkan akarnya di dalam tanah yang kering, bukan memaksakan diri untuk berbunga. Begitu hujan turun, daunnya tumbuh lebih lebat dari sebelumnya."
Nenek menggenggam kedua tangan Kirana, menyalurkan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidup gadis itu.
"Rontok sebentar itu bukan berarti kamu selesai, Kirana. Itu cuma cara hidup nyuruh kamu buat nguatin akar."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kirana tidur tanpa bayang-bayang kecemasan. Di balik jendela kamar lamanya, angin malam berembus pelan, membisikkan janji bahwa besok pagi, matahari akan tetap terbit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar