Rabu, 09 September 2026

Rumah bagi Hati yang Pulang

 

Rumah bagi Hati yang Pulang

Aroma kayu jati yang tua dan keharuman melati kering menyambut langkah Laras saat ia mendorong pintu kayu rumah panggung itu. Sinar matahari sore menerobos melalu celah tirai bambu, membentangkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai papan yang bersih.

Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia berdiri di ruangan ini. Kota dengan segala derunya sempat menahan Laras dalam pusaran yang seolah tak bertepi—menagih waktu, tenaga, dan perlahan mengikis kedamaian di dadanya. Namun sore ini, saat bunyi gemericik air pancuran bambu di halaman belakang terdengar samar, tumpukan beban yang bertengger di pundaknya seolah runtuh begitu saja.

Laras berjalan ke sudut ruangan, membuka jendela lebar-lebar. Angin pegunungan yang dingin langsung berembus masuk, membelai wajahnya dan menerbangkan sisa-sisa rasa lelah yang menumpuk sekian lama. Di luar sana, hamparan lembah hijau membentang tenang di bawah naungan langit senja. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada tuntutan yang mengejar.

Ia menyandarkan kedua tangannya di ambang jendela, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan.

Di dalam kesunyian yang merengkuhnya dengan hangat, Laras tersenyum tipis. Ia akhirnya paham, sejauh apa pun ia melangkah dan secanggih apa pun tempat yang ia singgahi, jalan terbaik selalu membawanya kembali ke sini: sebuah ruang sederhana tempat hatinya bisa benar-benar bernapas dan merasa pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar