Selasa, 08 September 2026

Ahli Dzikir

 

Di sebuah desa kecil di pinggir hutan, hidup seorang lelaki tua bernama Pak Kadir. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang tak pernah berhenti menggerakkan bibirnya. Entah sedang berjalan menuju sungai, menyapu dedaunan kering di pelataran rumahnya, atau sekadar duduk di bawah pohon rindang, lisan Pak Kadir selalu basah oleh kalimat-kalimat dzikir.

Bagi warga sekitar, Pak Kadir adalah penyejuk. Setiap kali ada warga yang sedang dilanda kecemasan atau kesedihan, duduk sebentar di dekat Pak Kadir saja sudah cukup untuk membuat hati terasa teduh. Tidak ada nasihat panjang lebar yang keluar dari mulutnya, hanya ketenangan luar biasa yang seolah memancar dari sosok sang ahli dzikir.

Suatu malam, badai angin yang sangat dahsyat menerjang desa tersebut. Petir menyambar bertubi-tubi, dan angin kencang merobohkan beberapa pohon besar hingga merusak pemukiman. Warga desa yang panik berhamburan keluar dari rumah, mencari perlindungan ke surau tua—satu-satunya bangunan yang tampak berdiri kokoh.

Di dalam surau, ketakutan membuncah. Orang-orang menangis dan saling berpelukan saat gemuruh badai semakin menjadi-jadi. Namun, di sudut ruangan yang remang, Pak Kadir duduk bersila dengan tenang. Matanya terpejam, dan tasbih kayu di tangannya bergulir perlahan. Setiap usapan biji tasbih diiringi ketetapan hati yang bulat, menyerahkan seluruh keselamatan diri dan desanya kepada Sang Maha Pencipta.

Ajaibnya, di tengah kepanikan itu, langkah dzikir Pak Kadir yang perlahan mulai memunculkan suasana hangat di dalam surau. Satu per satu warga mulai meniru lisannya, mengikutinya mengingat Tuhan. Ketakutan yang semula menguasai ruangan perlahan memudar, berganti dengan rasa pasrah yang menentramkan.

Hingga akhirnya, menjelang fajar, badai runtuh dan angin kembali tenang. Saat pintu surau dibuka, warga menyaksikan pemandangan yang mengharukan: meski banyak cabang pohon bertumpukan di sekitar surau, tak satu pun yang menimpa atapnya. Desa mereka selamat dari kerusakan parah.

Pak Kadir menyunggingkan senyum tipis, menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu melanjutkan ketukan tasbihnya. Ia tahu, ketenangan bukan hadir karena dunia berhenti bergejolak, melainkan karena hati yang tak pernah berhenti mengingat Sang Pemilik Jiwa.

Buku Ajaib

 

Malam itu, di dalam kamar yang temaram, Hani sengaja tidak menyalakan lampu utama. Hanya lilin kecil di sudut meja yang menerangi sebuah buku bersampul kulit kusam tanpa judul. Buku itu baru saja ia temukan di ceruk meja rias mendiang ibunya—sebuah benda yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Hani menelan ludah, lalu perlahan membuka halaman pertama. Halamannya kosong, tetapi tekstur kertasnya terasa hangat di jemari. Tanpa memikirkan apa pun, Hani mengambil pena di dekatnya dan menuliskan satu kalimat pendek:

“Aku rindu tempat yang tenang.”

Begitu titik terakhir digoreskan, tinta hitam itu tiba-tiba menyerap masuk ke dalam serat kertas, seolah dihisap oleh lembaran itu sendiri. Detik berikutnya, permukaan halaman itu bergetar halus. Dari tengah kertas, muncul sebintik cahaya emas yang merambat cepat, memanjat ke tepi meja, lalu meluap dan memenuhi seluruh sudut kamar.

Hani memejamkan mata karena silau. Saat aroma debu kamar berganti dengan wangi udara dingin dan daun basah, ia memberanikan diri membuka mata.

Kamar ringkasnya telah lenyap. Hani kini berdiri di atas padang rumput hijau yang luas di bawah langit senja berwarna jingga keemasan. Angin berembus lembut, membawa ketenangan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di depannya, buku ajaib itu melayang pelan, halamannya terbuka lebar menunggu tulisan berikutnya.

Teringat akan ibunya dan segala hiruk-pikuk kehidupan yang sering membuat napasnya sesak, Hani mengambil pena dari saku celananya. Ia sadar, buku ini bukan sekadar kumpulan kertas, melainkan ruang bernapas yang sengaja ditinggalkan untuknya.

Ia tersenyum tipis, merapatkan jemarinya pada pena, lalu mulai menuliskan harapan berikutnya di atas halaman yang bersinar itu.

Catatan Kecil di Celah Lemari

 

Suara derit pintu kamar yang lama tak dibuka bergema pelan di dalam rumah peninggalan orang tua. Maya berdiri di tengah ruangan yang diselimuti debu tipis, memandangi tumpukan dus dan lemari kayu tua yang harus ia rapikan. Seminggu terakhir terasa begitu berat setelah keputusan sulit untuk mundur dari dunia akademis yang selama ini menghimpitnya. Ada rasa bersalah yang mengendap, seolah-olah ia telah mengecewakan banyak harapan.

Ia mulai menggeser sebuah lemari buku yang berat. Saat lemari itu bergeser beberapa sentimeter, selembar kertas kusam yang terlipat jatuh dari celah belakangnya.

Maya memungut kertas itu. Tulisan tangan yang sangat familiar tertera di sana—tulisan tangan ibunya, tertanggal belasan tahun lalu ketika Maya masih bersiap masuk bangku sekolah dasar.

“Untuk Maya kecil yang sedang belajar berjalan. Hari ini kamu jatuh tiga kali di halaman, tapi kamu selalu tersenyum sebelum mencoba berdiri lagi. Jangan pernah lupa cara tersenyum itu saat kamu dewasa nanti.”

Maya menatap barisan kata itu lama. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, membasahi pinggiran kertas yang menguning. Di tengah rasa cemas akan masa depan dan beban ekspektasi yang terus mengejarnya, ia lupa bahwa melangkah tidak pernah berarti harus selalu berdiri tegak tanpa pernah jatuh.

Ia mengusap pipinya, melipat kembali kertas kecil itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dada Maya terasa lebih ringan. Langkah yang ia pilih mungkin bukan jalan yang diharapkan semua orang, tetapi malam ini ia tahu, ia hanya perlu belajar melangkah lagi dengan caranya sendiri.

Langkah Pertama di Dermaga Tua

 

Suara derit papan kayu beradu dengan deburan ombak kecil di bawah dermaga tua itu. Rian duduk di ujung papan yang rapuh, membiarkan kedua kakinya menggantung bebas di atas permukaan air laut yang gelap. Di sampingnya, sebuah koper hitam besar tergeletak bisu. Ia baru saja memutuskan untuk pergi dari kota kelahirannya—membawa kekecewaan besar setelah ditinggalkan mitra bisnisnya dan kehilangan seluruh aset yang ia kumpulkan selama lima tahun.

Dunia di matanya saat ini terasa seperti lautan di hadapannya: luas, gelap, dan tak tentu arah.

"Malam begini angin laut tidak bagus untuk paru-paru, Anak Muda."

Seorang nelayan tua dengan pakaian lusuh dan penerang serabut kelapa di tangannya berjalan mendekat. Pria itu meletakkan tempat ikan yang masih kosong di samping koper Rian, lalu duduk santai tanpa beban.

"Sedang menunggu kapal?" tanya nelayan itu.

"Saya tidak tahu sedang menunggu apa, Pak," jawab Rian jujur, suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak. "Saya cuma merasa tidak punya tempat untuk kembali, dan tidak tahu harus melangkah ke mana lagi. Semuanya habis."

Nelayan tua itu terkekeh pelan, mengambil sebatang rokok kretek dari saku celananya dan menyalakannya. Cahaya api rokok itu sempat menerangi wajahnya yang penuh garis-garis ketabahan.

"Laut ini," kata nelayan itu sambil menunjuk ke kegelapan di depan mereka, "setiap malam kelihatan seperti tidak ada ujungnya. Seram. Tapi tiap pagi, waktu matahari terbit, kita baru sadar kalau di balik kegelapan itu ada daratan baru yang menunggu."

Pria itu menepuk koper hitam Rian yang tampak berat.

"Kamu merasa habis karena kamu masih melihat apa yang hilang di belakangmu. Coba berdiri, balikkan badanmu, dan lihat ke depan. Kapal tidak dibangun untuk diam di dermaga tua yang mau roboh ini. Dia dibuat untuk menembus ombak, sebagus atau seburuk apa pun cuacanya."

Rian menarik napas panjang, meresapi udara malam yang asin dan tajam. Kata-kata sederhana itu perlahan mengurai simpul sesak di dadanya.

Ketika nelayan tua itu bangkit untuk merapikan jalanya, Rian pun ikut berdiri. Ia memegang gagang kopernya erat-erat—bukan lagi sebagai beban kegagalan, melainkan sebagai bekal untuk memulai perjalanan yang baru.

Aroma Kayu Manis di Sudut Dapur

 

Suara dering jam weker di atas meja samping tempat tidur membangunkan Sita tepat pukul lima pagi. Udara subuh masih sangat dingin, menyusup lewat celah jendela kayu kamarnya. Selama tiga bulan terakhir, pagi Sita selalu diawali dengan perasaan sesak yang sama—bayang-bayang kegagalan usaha toko rotinya yang gulung tikar masih membuntutinya seperti bayangan yang tak mau hilang.

Dengan langkah pelan, ia berjalan ke dapur kecilnya. Di sana, Ayah sudah berdiri membelakanginya, sibuk menakar tepung dan menyalakan oven tua yang bunyinya selalu menderu kasar.

"Pagi, Sita," puji Ayah tanpa menoleh, seolah tahu langkah kaki putrinya. "Bisa tolong Ayah ambilkan kayu manis bubuk di rak atas?"

Sita mengambil wadah kaca berisi kayu manis bubuk itu dan menyerahkannya. "Ayah masih mau bikin roti setiap pagi? Padahal toko kita sudah tutup, Yah."

Ayah tersenyum tipis, lalu menaburkan bubuk harum itu ke atas adonan yang sedang diulinya. "Toko boleh tutup, Sita. Tapi jemari Ayah dan kamu belum patah. Keahlian kita tidak ikut kebangkrutan itu."

Sita menunduk, menatap adonan roti di meja kayu yang terpapar cahaya lampu kuning Dapur. "Tapi Sita malu, Yah. Semua tabungan Sita habis. Rasanya sia-sia semua kerja keras bertahun-tahun kemarin."

Ayah menghentikan gerakannya, lalu mengusap tangannya yang berbalut tepung pada celemek. Beliau menepuk bahu Sita lembut.

"Kamu tahu kenapa roti butuh waktu untuk mengembang?" tanya Ayah pelan. "Adonan ini harus didiamkan di tempat gelap, ditutup kain basah, dan dibiarkan beristirahat. Kalau kita buru-buru memanggangnya sebelum waktunya, rotinya bakal bantat dan keras."

Ayah menunjuk dadanya sendiri, lalu menunjuk Sita.

"Kondisi kita sekarang cuma lagi di bawah kain basah itu, Nak. Kita cuma lagi dikasih waktu buat 'mengembang' lagi dalam diam. Ini bukan akhir, ini cuma proses pematangan."

Aroma khas kayu manis dan adonan hangat perlahan memenuhi ruangan dapur yang sempit itu. Sita menghirup udara pagi itu dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam sembilan puluh hari terakhir, dada Sita terasa sedikit lebih lapang.

Jendela dan Hujan Sore

 

Bunyi gemercik air hujan yang mengetuk kaca jendela kamar menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan sempit itu. Dion duduk bersandar di sudut kasur, menatap tumpukan berkas portofolio yang tersusun di atas meja belajar. Sepanjang hari, ia hanya memandangi lembar demi lembar karyanya yang berkali-kali ditolak oleh berbagai perusahaan seni visual. Ada rasa asing yang perlahan menggerogoti dadanya: rasa tidak berguna.

Ibu melangkah masuk tanpa suara, membawa semangkuk sup ayam hangat yang asapnya masih mengepul tipis. Beliau meletakkan mangkuk itu di meja, lalu berdiri di samping Dion, ikut menatap jendela kamar yang buram tertutup titik-titik air.

"Hujannya deras sekali ya, Nak," ujar Ibu pelan.

Dion hanya mengangguk tipis, enggan bersuara. Suasananya terlalu membingungkan untuk dijelaskan dengan kata-kata.

"Kamu ingat tidak, waktu kecil dulu kamu paling benci kalau hujan turun saat sore hari?" Ibu tersenyum memandangi kaca jendela. "Kamu selalu menangis karena tidak bisa main sepeda di luar. Kamu pikir harimu benar-benar hancur."

Dion menoleh sedikit, menatap wajah ibunya yang teduh.

"Tapi setiap kali hujan reda," lanjut Ibu sambil membelai rambut Dion, "kamu selalu nemuin pelangi di ujung gang, atau setidaknya main genangan air sama teman-temanmu. Hujan tidak pernah benar-benar merusak harimu, Dion. Dia cuma menghentikan langkahmu sebentar supaya kamu bisa istirahat."

Ibu mengambil satu lembar kertas lukisan Dion yang tergeletak di atas meja, menatap detail garisnya dengan penuh kebanggaan.

"Garis lukisanmu tidak pernah salah. Mungin dunia cuma sedang hujan di luaran sana, dan kamu cuma perlu nunggu sebentar sampai langitnya terang lagi. Jangan berhenti melukis cuma karena harinya sedang basah."

Ibu kemudian berlalu meninggalkan kamar. Dion kembali menatap jendela. Titik-titik air di kaca itu perlahan luruh, membiarkan seberkas cahaya jingga dari balik awan menembus masuk, menerangi lembar-lembar kertas lukisannya yang siap kembali diberi warna.

Jejak di Tepi Danau

 

Angin sore berembus dingin di tepi Danau Toba, menerpa wajah Maya yang terduduk kaku di atas bangku kayu tua. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kusam terbuka pada halaman yang penuh dengan coretan garis-garis silang. Itu adalah daftar semua rencana hidupnya dalam lima tahun terakhir—rencana yang kini tak satu pun menjadi kenyataan.

Kecewa dan merasa tertinggal dari teman-temannya yang sudah melangkah jauh, Maya menutup buku itu dengan kasar. Ia melemparkan pandangannya ke riak air danau yang memantulkan warna jingga mentari terbenam.

"Airnya terlihat sangat tenang, ya?"

Sebuah suara menyapa. Seorang pria paruh baya yang membawa alat pancing duduk di bangku sebelah. Pria itu melempar kailnya ke dalam air, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.

"Tapi di bawah sana, arusnya sebenarnya terus bergerak," lanjut pria itu tanpa menoleh. "Sama seperti kita. Kadang kita merasa diam dan tak menghasilkan apa-apa, padahal di dalam diri, kita sedang memproses banyak hal."

Maya menatap pria tua itu, lalu menunduk melihat bukunya lagi. "Tapi saya merasa sudah membuang banyak waktu, Pak. Semua yang saya rencanakan gagal."

Pria itu terkekeh pelan. "Kamu tahu bedanya orang yang sedang berjalan di jalur yang benar dengan orang yang tersesat? Orang yang tersesat sebenarnya cuma belum sampai ke tempat yang baru. Jalan berputar itu bukan berarti kamu mundur, Maya. Itu cuma cara alam memberi waktu supaya kamu siap waktu sampai di tujuan."

Maya tertegun. Pria itu bahkan tidak mengenalnya, namun kalimatnya memukul telak rasa cemas yang selama ini menghantuinya.

Matahari perlahan tenggelam di balik bukit, menyisakan warna keunguan di langit malam. Maya memeluk buku catatannya erat-erat, bukan lagi dengan rasa benci, melainkan dengan penerimaan. Di tepi danau yang hening itu, ia akhirnya paham bahwa jalurnya tidak harus sama dengan orang lain untuk tetap sampai ke tempat yang indah.