Rabu, 09 September 2026
ahli dzikir yang ingin berdua dengan allah
Hidupku Bahagia Bersama Allah
Selasa, 08 September 2026
Semua Keinginan Terkabul
Di sebuah celuk lembah yang terisolasi dari riuk pikuk dunia, berdiri sebuah monumen batu berukir simbol kuno yang dikenal dalam legenda sebagai Prasasti Keinginan. Konon, siapa pun yang mampu mencapai tempat itu dan menyentuh batunya pada malam bulan purnama, seluruh keinginan dalam hatinya akan langsung terkabul tanpa syarat.
Kalea menempuh perjalanan bertahun-tahun menembus hutan lebat dan tebing terjal hanya demi berdiri di depan batu tersebut. Di kepalanya, meluap ribuan tumpukan harapan: ketenangan yang tak terusik, kedamaian abadi, kecukupan yang tak pernah habis, hingga terhapusnya seluruh rasa sakit yang pernah hinggap di jiwanya.
Saat rembulan tepat berada di puncaknya, Kalea melangkah maju. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan batu yang dingin.
“Tabulkan seluruh keinginanku,” bisiknya dalam hati.
Seketika, gelombang hangat mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Cahaya keemasan merekah pelan, merayapi seluruh penjuru lembah sebelum akhirnya meresap ke dalam jiwanya.
Dalam sekejap, segalanya berubah.
Rasa lelah di kaki Kalea lenyap seketika. Beban berat di dadanya menguap tanpa sisa. Keinginan akan tempat yang tenang, kedamaian jiwa, dan kecukupan hidup terwujud dalam satu helaan napas. Tak ada lagi cemas, tak ada lagi ketakutan akan hari esok, dan tak ada lagi penyesalan masa lalu. Segalanya menjadi utuh, sempurna, dan mutlak.
Kalea terduduk di atas rumput basah. Ia memejamkan mata, merasakan kepenuhan yang luar biasa melingkupi dirinya. Dalam hening yang begitu sempurna itu, ia menyadari satu hal: ketika semua keinginan telah terkabul, tidak ada lagi alasan untuk berlari, mencari, atau berharap. Yang tersisa hanyalah rasa syukur yang teramat dalam dan kedamaian yang akhirnya tinggal secara permanen di dalam dadanya.
Kepentingan
Lampu gantung di tengah ruang rapat lantai atas itu memancarkan cahaya kekuningan yang dingin. Di balik meja kayu panjang yang mengilap, dua orang duduk berhadapan. Tidak ada suara denting cangkir atau lembaran kertas yang diacak. Hanya ada keheningan yang tajam, tipis, dan penuh desakan.
Rian meletakkan dokumen tipis di tengah meja, membiarkannya berada tepat di garis batas antara dirinya dan Seno.
"Kau tahu apa isi map ini, Seno," ujar Rian pelan. Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk memotong kesunyian malam yang mulai merambat di luar jendela kaca kantor. "Bila ini ditandatangani, seluruh rencana awal yang kita susun selama lima tahun akan berubah arah. Banyak hal yang harus dikorbankan."
Seno menatap map itu tanpa menyentuhnya. Jemarinya saling bertaut di atas meja. "Kolektivitas, Rian? Atau kompromi? Jangan berpura-pura ini demi kebaikan bersama jika ujung-ujungnya hanya untuk mengamankan posisimu."
Rian tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan. "Dalam dunia yang kita jalani, tidak ada pilihan yang murni bersih. Setiap orang membawa kepentingannya sendiri. Bedanya, kepentingan yang kubawa malam ini menjaga agar kapal ini tidak karam, sementara kepentinganmu hanya ingin memastikan namamu tetap bersih di atas kertas."
Seno membisu. Setiap kata yang diucapkan Rian menohok tepat di tempat yang paling ia hindari. Ia tahu Rian benar. Di balik segala alasan moral dan idealisme yang selama ini ia gaungkan, ada rasa takut kehilangan pengaruh yang terselip rapi.
Malam makin larut. Di atas meja itu, sebuah map sederhana mendadak terasa begitu berat. Benda itu bukan lagi sekadar tumpukan kertas, melainkan cermin yang memaksa mereka berdua melihat dengan jelas garis batas antara loyalitas, ambisi, dan kepentingan yang akhirnya harus mereka pilih.
Ampuni Aku Wahai Rajaku
Teko Ajaib
Mobil Ajaib