Rabu, 28 Mei 2025
Kisah Motor Tua
KISAH KHALID
Kisah Ammar
Kisah Abdullah
Minggu, 25 Mei 2025
“Tarikan Tanpa Maaf (Bagian 3)”
Hujan makin deras. Rintik-rintik yang tadi lembut kini jatuh deras dan berat, membasahi kain jilbab yang sudah lecek.
Tapi Lara dan Dina masih saling tarik.
Bukan lagi tarik dengan tenaga penuh seperti tadi. Tapi genggaman mereka belum lepas. Ujung jilbab Lara masih berada di tangan Dina, dan sebaliknya.
Mereka mulai berjalan...
Saling tarik sambil melangkah.
Tidak bicara. Tidak saling tolak. Tapi juga tidak melepaskan.
Langkah mereka canggung, seperti dua orang yang terikat tali tak terlihat.
Satu melangkah ke kiri, yang lain ikut.
Satu berhenti sebentar untuk menyapu air hujan dari wajah, yang lain tetap genggam erat.
Akhirnya mereka sampai di sebuah sudut parkiran yang agak teduh—di bawah atap kecil dekat tangga darurat.
Sunyi. Sepi. Basah.
Cahaya lampu remang membuat bayangan mereka membentuk siluet dua perempuan yang masih terkunci dalam genggaman jilbab.
Mereka berdiri.
Diam.
Basah kuyup.
Masih saling genggam kain satu sama lain.
Dina menatap Lara. Wajahnya sudah tak lagi garang. Napasnya mulai pelan.
“Gue gak tahu... kenapa gue segila itu tadi,” katanya pelan.
Lara menunduk. “Karena lo gak mau kalah. Sama kayak gue.”
Beberapa detik hening. Lalu perlahan, genggaman mereka mulai mengendur...
Tapi tidak langsung dilepas.
Mereka tetap pegang. Bukan karena marah lagi. Tapi... seperti belum siap benar untuk melepaskan.
Dan di situ, di sudut sepi parkiran yang teduh dari hujan, dua perempuan muda berdiri—genggaman mereka masih menyisakan sisa dari pertarungan tadi.
Bukan lagi pertarungan jilbab.
Tapi pertarungan untuk mengakui bahwa mereka sama-sama terluka.
Tarikan Tanpa Maaf (Bagian 2)
Angin sore makin kencang. Jilbab mereka sudah kusut parah. Ciput keduanya sudah separuh keluar, dan helai-helai rambut mulai menyembul di sela lipatan kain yang tertarik.
Tapi tak ada yang peduli.
Mereka masih saling tarik.
Saling genggam kain jilbab dengan jari yang mulai memutih karena kekuatan genggaman.
Dina mulai mendorong sedikit, mencoba menekan bahu Lara sambil tetap menarik jilbabnya. Lara malah menarik makin kuat, kini dengan kedua tangan.
Kain berbunyi, seperti akan robek.
Wajah mereka nyaris bersentuhan. Nafas mereka berat, tercampur antara marah dan lelah.
Orang-orang menonton dari jauh. Ada yang rekam pakai HP, ada yang berbisik pelan:
“Itu si Lara ya?”
“Yang satu Dina... oh, ini pasti karena Arman…”
“Eh gila, udah lima menit mereka gitu terus!”
Tapi tidak ada yang berani mendekat.
Sampai akhirnya... hujan turun.
Rintik-rintik kecil membasahi jilbab mereka yang sudah kusut. Tapi genggaman masih belum lepas.
Mereka mulai gemetar, bukan karena dingin, tapi karena campuran antara kelelahan dan ego. Mata mereka mulai basah—bukan karena hujan saja.
Dan lalu, perlahan...
Dina berbisik, masih dengan tangan di jilbab Lara:
“Gue gak akan minta maaf. Tapi gue juga gak mau gini selamanya.”
Lara menelan ludah, tatapannya melembut.
“Sama.”
Tapi... tidak satu pun melepas genggaman.
Belum.
Belum saatnya. Karena melepaskan duluan... terasa seperti kalah.
Dan di bawah hujan, di parkiran café, dua perempuan muda berdiri—basah, kusut, lelah, tapi masih tarik-tarikan jilbab, seperti dua bendera perang yang belum diturunkan.
“Tarikan Tanpa Maaf”
Di sebuah tempat parkir café yang baru buka, senja turun perlahan. Langit oranye, lampu mulai menyala, dan orang-orang sibuk ambil foto minuman mereka.
Tapi di sisi parkiran, dua perempuan muda berdiri saling menatap.
Lara dan Dina.
Mereka pernah akrab. Sama-sama cantik, sama-sama aktif di komunitas. Tapi hari ini? Tidak ada sisa keakraban.
“Aku liat chat kamu ke Arman,” kata Lara dingin.
Dina mengangkat alis. “Itu urusan aku. Bukan pacar kamu, kan?”
Seketika... tangan Lara bergerak. Dia meraih jilbab Dina—model segi empat yang dililit elegan—dan MENARIKNYA KERAS ke belakang.
Dina terdorong setengah langkah, tapi dia langsung balas: tangan kanannya menyambar sisi jilbab Lara, menariknya ke samping sampai lipatan kain di leher Lara melorot.
Kini mereka saling tarik jilbab.
Kain bergetar di tangan mereka, seperti medan listrik.
Wajah dekat, napas panas, tapi tak ada yang mau mengalah.
Tarikan makin kencang. Dina menarik dari bawah dagu. Lara membalas dari belakang kepala. Bros melayang. Ciput mulai goyang. Tapi genggaman mereka justru makin kuat.
“Lepasin duluan, kalau berani,” tantang Dina.
“Nggak akan gue lepas. Sampai lo ngaku,” balas Lara.
Mereka seperti terkunci.
Tarik. Tahan. Tarik lagi.
Bahu mereka sama-sama tegang. Rambut nyaris terlihat. Tapi tidak ada yang gentar.
Orang-orang mulai memperhatikan. Tapi tak ada yang mendekat. Karena jelas: ini urusan pribadi yang panasnya melebihi kopi espresso di dalam café.
Satu menit. Dua menit.
Masih saling tarik jilbab.
Masih saling kunci kain, tangan bergetar karena emosi.
Ini bukan soal cowok lagi.
Ini tentang harga diri.
Tentang siapa yang lepas lebih dulu.
Dan jawabannya: bukan mereka.