Minggu, 25 Mei 2025

Kerudung Tersingkap, Ego Terbuka

 

Di sudut halaman sekolah putri, dua siswi berdiri berhadapan. Angin sore berhembus pelan, tapi suasana memanas seperti tengah hari bolong.

Namanya Alya dan Nina—dua siswi yang dikenal cerdas, modis, dan... saling tidak suka. Penyebabnya sederhana: masalah sepele yang jadi besar karena gengsi. Semua bermula dari tuduhan Nina bahwa Alya suka meniru gaya jilbabnya.

“Lo lagi-lagi pake lilitan yang gue pakai minggu lalu,” kata Nina dengan nada sinis.

Alya melipat tangan, wajahnya dingin. “Gaya jilbab bukan hak paten lo. Internet juga tau caranya.”

“Lo gak punya gaya sendiri! Numpang tren doang!”

Cukup. Tanpa banyak bicara, Alya maju dan menjambak jilbab Nina dari belakang, membuat kerudung satin itu melorot sedikit. Nina menjerit, balas mencengkeram jilbab Alya dengan dua tangan.

“BERANINYA LO YA!”

Jilbab-jilbab yang tadi rapi kini jadi alat tarik-tarikan. Mereka berputar, saling tarik sisi kerudung, hingga peniti terlempar, ciput melorot, dan rambut sebagian terlihat. Suara teriakan mereka terdengar sampai ke ruang guru.

“Alya, Nina! APA KALIAN BERDUA ITU BERTARUNG APA BERHIJABIN SATU SAMA LAIN?!” teriak Bu Sari yang datang terburu-buru.

Keduanya terhenti, napas ngos-ngosan, jilbab berantakan, wajah memerah antara marah dan malu.

Bu Sari memandang mereka lama, lalu berkata lirih, “Kalian berjilbab untuk menutup aurat dan meredam ego... bukan untuk tarik-menarik kesombongan.”

Alya dan Nina tertunduk. Mungkin malu karena jilbabnya tersingkap. Mungkin juga karena baru sadar, mereka ribut bukan soal benar atau salah, tapi karena tak mau mengalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar